Kehidupan yang dibangun Shahrokh dan Brandi Rahimi bersama – kisah cinta yang dimulai di sebuah restoran San Antonio pada tahun 2007, yang berpuncak pada pernikahan pada tahun 2009 dan kelahiran putri mereka – hancur pada 22 Juni 2025, ketika agen ICE menangkap Shahrokh di depan keluarganya. Ini bukan satu-satunya insiden; ini adalah ilustrasi yang jelas tentang bagaimana penegakan imigrasi AS memecah-belah keluarga, meninggalkan trauma yang berkepanjangan.

Kehidupan yang Terganggu

Masa-masa awal Shahrokh dan Brandi berlangsung bak kisah cinta modern. Pertemuan mereka di Restoran Meksiko Sarita berujung pada lamaran pada tahun 2009, diikuti dengan pernikahan kecil namun bermakna dengan keluarga dan teman. Mereka kemudian mendirikan toko taco kecil, sebuah bukti semangat kewirausahaan Shahrokh dan impian mereka bersama. Meskipun menghadapi kompleksitas dari status Shahrokh yang tidak berdokumen (setelah memasuki AS pada tahun 2003), mereka tetap bertahan, dan akhirnya mendapatkan status “menahan pemindahan” pada tahun 2010, melindunginya dari deportasi ke Iran karena ketakutan akan penganiayaan.

Selama 15 tahun, Shahrokh dengan tekun mematuhi semua persyaratan pembebasannya, menghadiri check-in dan memberikan kontribusi kepada komunitasnya. Namun, pada hari yang menentukan di bulan Juni itu, rekornya tidak berarti apa-apa. Agen memborgolnya di depan putrinya yang berusia 12 tahun dan tetangganya, mengirimnya ke dalam tahanan di berbagai fasilitas imigrasi.

Efek Riak Trauma

Dampak yang terjadi segera sangatlah brutal. Brandi menyaksikan penangkapan suaminya, dan putri mereka mengalami serangan panik traumatis, yang selamanya mengubah rasa amannya. Anak tersebut sekarang terkejut ketika mendengar suara yang tiba-tiba, meminta kamera di pintu, dan memaksa ibunya untuk tidur di sampingnya – yang merupakan gejala kecemasan yang mendalam. Brandi sendiri berjuang melawan depresi, sulit tidur, dan beban berat sebagai orang tua tunggal.

Ketegangan finansial sangat parah. Pelajaran cello dan kegiatan musim panas telah dihentikan, dan keluarga tersebut bergantung pada penggalangan dana online untuk tetap bertahan. Brandi menangani pekerjaan, panggilan pengacara, dan kebutuhan emosional putrinya yang terus-menerus, karena mengetahui bahwa ketidakhadiran Shahrokh mengancam masa depan akademis dan emosional putrinya. Putri mereka, seorang siswa berbakat yang memiliki cita-cita untuk NASA, kini menghadapi jalan yang tidak pasti yang diliputi oleh kesedihan dan ketidakstabilan.

Melampaui Berita Utama

Kasus ini bukan tentang statistik; ini tentang kerugian manusia akibat kebijakan imigrasi. Shahrokh bukan hanya seorang tahanan, tapi juga seorang suami, ayah, dan anggota masyarakat yang setia yang menyumbangkan waktunya untuk memotong rumput tetangga, memberi makan para veteran, dan membimbing anak-anak di sekolah putrinya. Penangkapannya tidak hanya memecah belah keluarganya tetapi juga merampas komunitasnya yang tidak memberikan kontribusi tanpa pamrih.

Kisah keluarga Rahimi menggarisbawahi sebuah kebenaran penting: penegakan hukum imigrasi bukanlah birokrasi yang abstrak melainkan sebuah tragedi yang sangat pribadi. Ketakutan akan perpisahan membayangi jutaan orang, dan trauma yang diakibatkan oleh ICE meluas hingga melampaui tembok penahanan. Komitmen pasangan ini terhadap cinta, iman, dan ketahanan menjadi bukti kekuatan abadi keluarga yang terjebak dalam sistem yang rusak.

Perjuangan keluarga Rahimi merupakan pengingat yang menyakitkan bahwa kebijakan imigrasi bukan sekadar perdebatan politik; itu adalah kenyataan yang mengubah hidup yang menghancurkan mimpi dan meninggalkan bekas luka yang mungkin tidak akan pernah sembuh.